| Peresmian Pesantren TIK |
|
|
|
![]() Republika, Sabtu 14 Mei 2011, halaman 12: Satu langkah penting dilakukan oleh Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah (LAZIS) PT PLN (Persero). Bekerja sama dengan LP3T Nurul Fikri, LAZIS PLN mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Teknologi Informasi dan Komunikasi di Depok, Jawa Barat. Pada Rabu (11/5), ponpes yang sudah beroperasi sejak November 2010 ini, diresmikan. Menurut Bambang Dwiyanto, manajer senior komunikasi korporat PLN, pesantren ini khusus didirikan untuk mengajarkan pendidikan mengenai teknologi informasi dan komunikasi. “Jadi, pada siang hari, mereka (para santri) akan belajar teknologi informasi dan komunikasi, lalu malam harinya mereka fokus belajar agama,“ terang Bambang. Pesantren ini berlokasi di belakang kompleks Marinir, tak jauh dari Masjid Dian AlMahri, Depok. Lahan tempat dibangunnya pesantren bagi kaum dhuafa ini merupakan tanah milik LAZIS PLN. Dana pembangunan gedung pesantren inipun berasal dari pe ngelolaan LAZIS PLN. Di BUMN ini, para karyawan yang ingin menyumbangkan sebagian penghasilan mereka untuk pembangunan pesantren harus mendaftar terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dilakukan pemotongan gaji. Untuk tahap awal, sudah ada 15 santri yang belajar di pondok pesantren ini. Siswa yang menjadi santri pun bukan siswa biasa. Mereka adalah lulusan SMA yang terpilih setelah mengikuti berbagai tes dan dinyatakan memiliki kapasitas yang baik. Para santri yang berumur 17 hingga 18 tahun ini berasal dari keluarga kurang mampu (dhuafa). Orang tua mereka ada yang bekerja sebagai pedagang bakso, juru parkir, pedagang asongan, dan lain sebagainya.
“Kita berharap, mudah-mudahan jumlah santri akan lebih banyak lagi ke depannya,“ kata Bambang. Nantinya, para santri akan mengikuti pendidikan setara diploma dua (D-2) selama dua tahun. Sementara untuk tenaga pengajar diambil dari Divisi Informasi dan Teknologi, Lem baga Nurul Fikri. Selain dari Depok, tak sedikit santri datang dari daerah lain seperti Lampung, Cirebon, dan Serpong. ![]() Ke depan, pesantren ini akan terus dikembangkan. Tak hanya sampai pada tahap pemberian pendidikan, PLN juga akan terus memantau perkembangan santri setelah lulus dari pesantren. Bahkan, jika memungkinkan, kata Bambang, nantinya para santri ini akan difasilitasi hingga memiliki pekerjaan. “Ada permintaan juga untuk para santri di perusahaan.“ c04 ed: wachidah handasah |




